IBX5980432E7F390 Naskah Drama 10 Orang Pemain - Mumusweb
10 orang agama android antivirus antivirus 2017 antivirus gratis 2017 Backlink bahasa indonesia Beasiswa Belajar Hacking Berkualitas bootloop cara instal cara instal McAFEE catatan Catatan Seorang Pejalan Cerita Cerpen CIREBON Deface Dongeng Bahasa Cirebon Dongeng Bahasa Inggris dongeng bahasa sunda Dork dork 2017 Dork Fresh dork fresh 2017 Download download antivirus download antivirus 2017 Drama Firmware Firmware ADVAN Firmware OPPO Firmware Samsung Flash Advan Flash Samsung Fresh 2017 galau gambar Google Drive Harga History History Borobudur history indonesia internasional internet KAIST Global ITTP kerajinan KERATON KASEPUHAN Kesehatan king of Sriwijaya Kingdom koleksi Korea Selatan Kumpulan Firmware Kumpulan Pidato Bahasa Cirebon kumpulan pidato bahasa sunda Kumpulan Puisi Kumpulan Puisi Keagamaan Legenda mastah mencari website vuln mengatasi lemot Nasional naskah naskah Drama Naskah Drama 10 Orang Pemain nembak cewe one of the king of Sriwijaya Kingdom OPPO orang pemain Pidato Bahasa CIrebon Pidato Bahasa CIrebon pidato bahasa sunda plangon Prakarya praktik kerja industri puisi puitis ratu marpuah Resep resep ayam resep ayam bakar script script deface sejarah bali Sejarah Cirebon sejarah indonesia sejarah kerajaan Sejarah Kerajaan Cirebon sertifikat shell deface SMKN 2 Kota Cirebon Spesifikasi sumber Surat terbaik tool hacking tools Tugas Sekolah tupar web vulnerability scanner Tutorial Flash tutorial instal update samsung upgrade upgrade samsung USB Password Recovery Tools video windows 7 windows seven XI Perbankan 2

Naskah Drama 10 Orang Pemain

Judul : Mulai Dari Nol
Penulis 
Widya Mustika Melati
SMK 2 N KOTA CIREBON
XI Perbankan 2

Pemain : 

  1. Astin (Ibu Rio)
  2. Rio 
  3. Dendi
  4. Rudi (Ayah Rio)                                      
  5. Redo (Saudara Kembar Rudi)
  6. Dodi (Karyawan Warung Siomay)
  7. Rendi (Karyawan Warung Siomay)
  8. Ibu Tari (Pelanggan)
  9. Sinta (Istri Rio)
  10. Sri (Ibu Dodi)

      Di tengah padatnya perkampungan di pinggir kota, tersimpan sebuah rumah kecil yang temboknya terbuat dari anyaman bambu dan digerogoti ribuan rayap - rayap kecil. Atap yang sudah bolong di sana sini yang sanggup untuk menghalau teriknya Sang Raja Siang dan menghalau dinginnya terpaan air hujan. Dalam rumah yang sesak dan pengap itu tinggallah seorang penjual seblak Bandung bersama istri dan satu putranya.
      Di kala suatu sore, Astin, istri penjual seblak itu dagang di sebelah SMK Negeri 1 Lemah Abang. Pembeli datang, lalu Astin mengayunkan pisau kecil yang tajam di genggamannya yang erat. Dipotongnya satu per satu tumpukan kol itu. Astin memberi kerupuk, makaroni atau baso dan sosis ke dalam penggorengan yang berisi Zaitun. Di sela - sela menunggu seblak tersebut masak, Astin menyiapkan serofom dan meletakkannya di meja.
      Sementara itu, dalam sebuah bilik kecil terlihat Rio sedang membaca buku untuk mempersiapkan Ulangan Nasional yang akan dimulai lima hari lagi. Hanya selang beberapa menit, Rio meletakkan bukunya dan berdiri. Dia berjalan mondar mandir dibilik tersebut. Anak semata wayang di keluarga itu terlihat sangat bingung. Bukan karena materi pelajaran yang dibacanya, namun ternyata karena siang tadi dipanggil oleh guru di sekolahnya. SMK Negeri 3 Lemah Abang tempat sekolah Rio, berlakukan pengaturan bahwa siswa tidak boleh mengikuti Ulangan Nasional jika administrasi belum lunas. Ya, memang Rio belum membayar beberapa buku disemester 2 ini. Maka dari itu ia dipanggil oleh guru, supaya membayar. Jika ditotal mungkin sekitar Rp 450.000,00 tapi, tak tega rasanya Rio meminta uqng kepada orang tuanya, itulah yang membuat dia bingung. Akhir - akhir ini, keuangan keluarga tersebut memang menurun , apalagi sebentar lagi akhir bulan, sehingga keluarga tersebut harus membayar tagihan listrik dan tagihan air. Sementara orang tua Rio hanya penjual seblak. Keuangan yang didapat tak seberapa. "Haaaaaaaaahhhh.... !" Rio menghela napas panjang. Akhirnya Rio memutuskan untuk mencari penghasilan sendri.
      "Aku harus melakukan apa ?" gumamku.
      "Aha, aku tau, apa yang harus kulakukan, untuk mendapat uang." Astin menghapiri kamar Rio.
      "Rio kamu sedang apa di dalam,kok kamu bicara sendiri ?" tanya Astin
      " Hehehe.... Aku nggak papa kok Bu."
      Keesokan hari, Rio menjadi kuli bangunan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sehari dia mendapatkan Rp 50.000,00 selama 4 hari hanya terkumpul Rp 200.000,00 dan apa yang dia kerjakan, ternyata masih kurang. Kebijakan sekolah ternyata menghargai usaha Rio, dan ia diperbolehkan untuk mengikuti Ulangan Nasional. Syaratnya setelah selesai Ulangan Nasional, dia harus melunasi Administrasi. Hasil Ulangan Nasional pun dibagikan, Rio mendapatkan nilai tertinggi di antara teman - temannya, Rio memberi kabar gembira ini kepada orang tuanya.
      "Ibu ... ibu.. lihat deh aku mendapatkan nilai tertinggi."
      "Alhamdulilah, ibu bangga sama kamu, Nak," Astin menangis karena terharu.
      "Ibu ... tenang aja yah.. aku yakin, aku bisa menjadi anak kebanggaan ibu."
      "Makasih yah, Nak, ibu percaya itu," dengan pelukkan yang erat.
      Rio harus mencari penghasilan lagi untuk melunasi tunggakkan sekolah. Sepulang sekolah, Rio langsung ke tempat dia bekerja (kuli bangunan), salah satu temannya, melihat Rio sedang menjadi kuli bangunan, dan Dendi menghina Rio.
      "Hahaha.. Rio, loe emang pantas jadi kuli bangunan. Udah miskin, cupu lagi haha... kasian banget sihh hidup loe," dengan bertepuk tangan.
      "Heh.. maksud loe apa! Biarin, gua jadi kuli bangunan, dari pada loe anak Mami, udah nganggur, dan bisanya minta sama orang tua mulu," dengan perasaan kesal.
      "Sudah sudah, jangan bertengkar !" kata mandor.
      Dendi pun pergi, Rio langsung melanjutkan pekerjaannya. Matahari pun terbenam , Rio  pulang dengan memakai baju seragamnya itu. Astin belakangan ini bingung dengan anak semata wayangnya, karena setiap hari Rio pulang sore.
      "Assalammualaikum, aku pulang... "
      "Waalaikummussalam,kok kamu baru pulang, Nak ?" tanya Astin.
      "Iya. Bu. Tadi aku kerja kelompok dulu."
      Rio terpaksa untuk berbohong kepada Astin, karena dia tak mau Astin mengetahui, kalau dia menjadi kuli bangunan. Selama 1 minggu, Rio sudah memgumpulkan uang sebesar Rp350.000,00. jumlah yang harus dibayar Rp 450.000,00 namun Rio baru membayar Rp 200.000,00 lalu sisanya sebesar Rp 100.000,00.
      "Alhamdulilah.. akhirnya uang hasil kerja ku terkumpul juga."
      "Heeeemmm.. sebenernya aku ingin mengasih uang ini kepada ibu, tapi aku takut, ibu bertanya sama aku." Gumam ku.
      Keluarga kecil ini memang sedang membutuhkan uang. Dan penghasilan mereka belum menutupi segalanya. Tetapi mereka tetap sabar dan tawakal, dan mereka tidak akan menyerah walaupun banyak rintangan yang harus mereka hadapi. Mereka percaya kalau Tuhan sayang kepada mereka dan di balik kesengsaraan pasti ada kebahagiaan. Astin pun menyiapkan makan malam hari. Tak selang beberapa lama, hujan deras pun turun disertai halilintar dan guntur.
      "Duuuaaarrr !" suara guntur mengagetkan Astin dan Rio yang tengah bersiap - siap makan.
      Namun keduanya tetap bersyukur, karena masih diberi santapan yang bisa mengisi perut mereka. Baru beberapa suapan, tiba - tiba saja lampu bohlam di atas meja makan berkedip - kedip dan mati.
      "Apa kita belum membayar tagihan listik ?" tanya Astin kepada Rio.
      "Tidak, Bu. Ini baru tanggal 20,?" jawab Astin, seolah tahu arah pembicaran ibunya.
      "Mungkin karena hujan, listrik mati. Aku mau lihat depan dulu," sambung Rio. Rio pun berjalan menuju pintu depan.
       "Iya, Bu. Satu kampung listriknya padam."
      Detik demi detik, menit demi menit. Hingga beberapa jam pun berlalu. Hujan belum reda, guntur dan petir belum berhenti, lampu pun masih padam. Rio kelihatannya sudah mulai mengantuk, karena hari semakin malam. Astin masih di ruang makan, Rio berjalan menuju bilik kamarnya dan bergegas tidur supaya besok bisa belajar disekolah tanpa mengantuk. Matahari pun terbit menyinari bumi, Rio merasa bingung karena ayahnya tidak pulang ke rumah, akhirnya Rio bertanya kepada Astin.
      "Bu, ayah kemana sih, kok aku beberapa hari ini tidak melihat ayah ?"
      "Ayah sekarang ada di rumah saudara kembarnya, untuk berjualan. Kata kakak kembarnya, disitu tempat strategis," jawab Astin jelas.
      "Pantas saja, aku tidak melihat ayah belakangan ini."
      Menjelang sore, tiba - tiba terdengar suara gedoran pintu dari luar. Astin merasa bahagia, dia pun membuka pintu. Astin memandangi laki - laki di depannya. Awalnya Astin mengira kalau dia adalah suaminya, tetapi setelah Astin melihat lagi ternyata dia adalah saudara kembar dari suaminya, namanya Rudi. Rudi mengatakan bahwa adik kembarnya, yang bernama Redo sedang ada di rumah sakit, karena tadi malam tertimpa pohon yang tumbang disamabar petir. Rudi pun membawa Astin dan Rio ke rumah sakit Redo dirawat. Mereka pun sampai di rumah sakit, Redo ternyata tidak apa - apa, hanya beberapa goresan dan memar di kaki kirinya. Astin dan Rio pun pulang ke bilik kecil itu. selama di perjalanan.
      "Asik.... ayah bisa berkumpul lagi bersama kita," ujar Rio.
Sesampai di bilik, Redo kemudian memberi uang kepada anaknya dan Astin, untuk membayar buku pelajaran.
      "Kok ayah tahu ? Aku kan belum bilang ke Ayah ?" tanya Rio dengan heran.
      "Ayahkan tahu kalau kamu akan menghadapi Ulangan Nasional, jadi sudah pasti semua Administrasi harus lunas. Ngomong - ngomong kamu nggak sekolah ?"
      "Inikan hari minggu, Yah!"
      "Ohiya, ayah lupa, kalau ini hari minggu." Dengan rasa malu.
      "Ayah sudah makan belum ?" tanya Astin.
      "Belum, bikinkan ayah teh manis saja, Bu."
      "Ya, sudah."
      Seiring waktu berjalan, Rio lulus sekolah dan dia memutuskan untuk langsung bekerja. Karena, kalau Rio melanjutkan kuliah, keluarganya tidak akan sanggup untuk membiayai dia. Akhirnya dia berfikir untuk bekerja sebagai penjual siomay.
      "Siomay ! Siomay ! Siomay enak ! Dijamin tanpa boraks !" terdengar suara fals dari seorang pemuda tampan yang menjual siomay yaitu Rio.
Datanglah seorang bapak - bapak yang tergopoh - gopoh memanggil Rio.
      "Rio ! Rio ! Tunggu ! itu rumah kamu !"
      "Rumah saya kenapa, Pak?" jawab Rio terkejut.
      "Itu rumah kamu kebakaran."
      "Apa !!! Kebakaran.. ya sudah terima kasih ya pak, sudah memberitahu saya." Rio pun bergegas pulang ke bilik kecilnya itu.
      Pada saat Rio melihat biliknya, ternyata biliknya sudah tak berbentuk rumah lagi. Dan si jago merah pun sudah menelan nyawa ibu dan ayahnya itu, ia sekarang menjadi anak sebatangkara. Ia terpaksa harus menghidupi dirinya sendiri dengan berjalan siomay. Keesokkan harinya, seperti biasa ia kembali berjualan. Dan seperti yang sudah ia janjikan, ia mampir ke rumah Ibu Tari di kompleks Perumahan Sumber Asri.
      "Siomay ! Siomay ! Siomay enak ! Dijamin tanpa boraks !" teriak Rio yang tak disambut oleh siapapun.
      "Siomay, Bu ?" ulang Rio.
      "Siomay mas Rio !" teriak salah satu seorang ibu dari kompleks Perumahan Sumber Asri yang memang sudah menjadi langganannya sejak masih baru berjualan.
      "Biasa, Bu ?" tanya pemuda itu.
      "Iya dong, kaya biasanya aja. Nggak pake pare, terus sambelnya yang banyak." Jawab Ibu Tari.
      "Oke, Bu. Bentar ya," jawab Rio.
      "Ini, Bu. Siomaynya."
      "Berapa Mas ?" tanya Bu Tari.
      "Biasanyalah, Bu. Rp 5.000,00 aja," jawab Rio.
      "Nih makasih ya. Oh iya, besok jangan lupa kesini lagi ya."
      "Oke, Bu. Keliling lagi Bu," pamit Rio.
      "Ya ! semoga cepet laris ya Mas !" sambung Bu Tari.
      "Amiinn." Rio mengamini.
Rio kemudian pergi dari tempat Ibu Tari dan kembali melanjutkan berjualan.
      Jam sudah menujukkan pukul 17 lebih 26 menit, tepat pada saat itu pula dagangan siomay Rio sudah habis. Rio pun bergegas pulang ke tempat ia tinggal. Hidup sebatangkara memanglah terasa sulit. Apalagi bagi seorang Rio yang tak memiliki apa - apa semenjak kebakaran yang menelan nyawa ibu dan ayahnya . Rio pun bertambah dewasa. Beberapa tahun kemudian, ia memang sudah menekuni pekerjaan ini lumayan lama, tepatnya sekarang ia berusia 20 tahun.
      Tiga tahun telah berlalu, banyak sekali perubahan yang Rio alami. Siomay milik Rio kini sangat pesat. Pada akhirnya Rio membuka warung siomay yang besar dan memiliki cabang dimana - mana. Kini Rio sudah menjadi bos penjualan siomay yang memiliki 1024 karyawan. Akhir - akhir ini Rio sedang menyukai seorang gadis yang sangat cantik yaitu Sinta. Terlihat dari pancaran mata yang berbinar saat Sinta melihat Rio. Senyuman manis yang membuat hati Rio berdebar kencang dan sampai membuat dia keluar keringat dingin.
      Seiring waktu berjalan, Rio memberanikan diri untuk melamar Sinta. Tetapi yang menjadi beban Rio adalah siapa yang akan mendampingi dia pada saat ingin melamar Sinta. Akhirnya lamaran pun berjalan secara lancar dengan ditemani oleh seorang wali yang di wakilkan dengan pak RT serta maharnya. Menjelang beberapa hari, Sinta dan Rio menduduki kursi pelaminan dan acara yang dibuat Rio berjalan lancar seperti air mengalir, yang tanpa hambatan apa pun. Lalu Rio dan Sinta, menjadi pasangan kekasih yang bahagia. Dan mereka hidup dengan rukun dan damai.
      "Selamat ya Mas, saya doakan semoga mas Rio dan mba Sinta, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah," ujar Bu Tari.
      "Amiiiinnnn... Terima kasih ya Bu, atas doanya," pemuda itu mengamini.
      "Iya sama - sama Mas Rio."
      "Terima kasih ya, Bu," sambung Sinta.
      Seminggu kemudian, Rio dan sudah mempunyai rumah sendiri. Dan mereka bekerja sama untuk menangani warung siomay yang besar itu. Warung tersebut kini maju pesat. Usaha Rio selama ini yang ia geluti, akhirnya sukses dan lancar. Waktu pun terus berputar, kemudian Sinta mengalami pusing dan mual - mual, Rio pun kebingungan. Akhirnya dia membawa Sinta ke puskesmas. Berita bahagia itu pun datang kepada mereka. Sinta sekarang sedang mengandung buah hati yang mereka dambakan selama ini. Rio dan Sinta pun sangat berhati - hati menjaga buah hatinya, agar di jalan tidak ada hambatan apa pun (keguguran). Sinta selalu menjaga pola makannya, walaupun itu agak susah untuk di ikuti, tetapi demi buah hati yang mungil ini, dia merelakan untuk menjaga pola makannya.
      "Bunda jangn lupa jaga kesehatan ya, kamu disini aja, biar aku saja yang mengawasi warung siomay ini." Ujar Rio dengan penuh perhatian.
      "Iya, Ayah. Lagian kan aku nggak boleh kecapean juga."
      Rio bergegas pergi ke warung sioamay nya itu. Pada waktu dia mengawasi karyawan, ternyata ada karyawan yang kerjanya tidak benar. Uang yang tersimpan di boz kasir itu, ternyata hasilnya tidak sama dengan komputer.
      "Dodi, kok pendapatan hari ini tidak sama dengan komputer, kenapa uang nya selisihnya banyak ?" tanya Rio.
      "Saya tidak tahu Pak." Dengan muka pucat dan tegang.
      "Kalau kamu kerjanya benar, pasti tidak terjadi seperti ini ! Rendi coba kamu cek lagi, barang kali ada yang belum Dodi input ke komputer," jawab Rio tegas.
      "Baik, Pak."
      "Nota dengan komputernya balance, tetapi uangnya selisih banyak Pak." Uajar Rendi.
      "Seperti ada yang menganjal." Jawab Rio heran yang menatapi terus Dodi.
      Pada saat Rio melirik ke arah Dodi, Dodi pun langsung meninggalkan tempat kasir itu. Rio pun merasa curiga, akhirnya dia mengikuti jejak langkahnya Dodi. Akhirnya Dodi menemui seorang ibu - ibu tua, yang tinggal di suatu bilik yang di kelilingi dengan barang rongsokkan. Dan dia mengeluarkan uang yang jumlahnya agak banyak.
      "Assalammualaikum, Bu?" ujar Dodi.
      "Waalaikumussalam, kamu sudah pulang, Nak." Dengan nada yang pelan dan serak.
      "Iya, Bu. Tapi aku mau kasih uang ini untuk ibu."
      "Terima kasih ya nak, kamu baik sekali. Ohiya kamu dapat uang ini dari mana ?" tanya Sri.
      Sri adalah orang tua dari Dodi. Hidup mereka seperti hidup Rio dulu, yang tak memiliki apa - apa dan mereka hidup di sebuah bilik yang sangat kumuh.
      "Heeemm.. uang ini ku dapatkan dari hasil kerjaku sekarang, Bu," jawab Dodi.
      "Sekarang emangnya kamu kerja apa, Nak?"
      "Aku bekerja di warung siomay, sebagai penjaga kasir,"
      "Oh gitu, ya sudah kamu masuk dulu ke dalam, terus makan." Sri menjamu anaknya dengan penuh perhatian.


      Dugaan Rio pun benar, yang mengambil uang di warungnya ternyata Dodi. Tetapi, pada saat ia mengikuti Dodi, dan menyaksikan kejadian tadi. Ia pun berfikir, akhirnya ia meninggalkan tempat tersebut. keesokkan hari, Rio kembali mengawasi warungnya. Dan Rio selalu memperhatikan gerak - gerik nya Dodi. Pada saat Rio sedang mengawasi karyawannya itu. Tiba - tiba Sinta menelpon suaminya, untuk belikan Ice Cream Durian dan mangga arum manis di Cempaka Putih, sedangkan rumah mereka di Sentiong, tepatnya disamping rel kereta.
      "Duhh .. ada - ada aja sih bunda tuh." dengan hati yang mengeluh.
      "Orang ayah lagi kerja. Ada - ada aja permintaan orang lagi ngidam," gumamku.
      Mau tak mau Rio harus menuruti permintaan istrinya , dan dia rela di suruh apapun, demi janin yang diperut Sinta. Permintaan Sinta pun di kabulkan. Yang menyedihkan lagi, ketika barangnya ada, hanya dilihat saja ! Tidak di makan sama sekali.
      "Udah belinya jauh, malah nggak di makan ! ya sudah ayah saja yang makan ini semua."
      "Hehehe maaf, Yah. Dede bayi nya seneng, soalnya permintaannya sudah di kabulkan," sambil mengelus - ngelus perutnya.
      Di selang beberapa menit, Rio mendapatkan laporan lagi dari karyawannya, kalau uangnya telah hilang. Rio pun bergegas ke tempat warungnya, untuk mengatasi kondisi seperti ini berturut - turut. Hari demi hari Rio terus menyelidiki Dodi. Akhirnya Dodi ke tangkap basah, pada saat dia sedang mengambil uang yang ada di kasir.. Dodi pun mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Rio. Kemudian, ia bercerita kalau uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan Dodi dan Sri. Apalagi sekarang Sri menderita penyakit Jantung. Rio memang memaklumi keadaan dia sekarang, tetapi cara yang Dodi lakukan itu salah. "Sikap kamu yang seperti ini, membuat warung saya bangkrut." Ujar Rio kesal.
      Rio pun membantu perekonomian Dodi. Akhirnya hidup mereka lebih baik dari pada sebelumnya, dan Rio memberi persyaratan kepada Dodi.
      "Saya akan membantu perekonomian kamu, asalkan jangan mengulangi perbuatan seperti itu lagi."
      "Iya, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi, saya berjanji."
      "Jika janji kamu ingkari, resikonya kamu saya pecat!"
      "Iya, Pak.Saya mengerti."
      Setelah selesai masalah pertama, muncullah masalah ke dua, yaitu Sinta mengalami keguguran. Sebabnya Sinta terjatuh di kamar mandi. Pada saat dia ingin membuang air kecil. Sinta sudah tergeletak di kamar mandi, namun tidak ada seorang pun yang tahu. Maka impian mereka ingin mempunyai anak hilanglah begitu saja. Sinta pun langsung di bawa ke Rumah Sakit. Berita duka yang sangat tak dikira.
      "Keluarga Pak Rio?" ujar Dokter.
      "Iya, Pak. Saya sendiri, pak bagaimana dengan keadaan istri saya ?" kekhawatiran terus menyelimuti tubuh Rio dan keluarga Sinta.
      "Maaf dengan sangat, istri anda tidak bisa terselamatkan, di karenakan sangat banyak darah yang di keluarkan, jadi istri anda mengalami kekurangan darah." Penjelasan dokter.
      "Apa, Dok !! Jadi istri saya dinyatakan meninggal dunia?" jawab Rio menangis.
      "Kurang lebihnya seperti itu, Pak. Bapak yang sabar ya."
       "Innalillahi wainnailaihi roziun, kamu kenapa cepat sekali meninggalkan aku, bunda... " Rio berserah diri kepada yang Maha Kuasa.
      Kini hidup Rio tak berwarna lagi, tak seperti waktu dulu ada Sinta yang mendampinginya. Saat ini Rio sering sekali melamuni Sinta. Dia merasa hidup ini tak adil. " Kenapa kau ambil nyawa istriku Ya Rob, kenapa tidak aku saja yang kau ambil." Rio pun sering murung memikirkan Sinta. Kini tak ada lagi yang mendampingi dia seperti semula. Dan status Rio sekarang menjadi seorang dua.

 SEKIAN

Naskah Drama. Mulai dari Nol 10 Orang Pemain "mumusweb.Blogspot.co.id" Di tengah padatnya perkampungan di pinggir kota, tersimpan sebuah rumah kecil yang temboknya terbuat dari anyaman bambu dan digerogoti ribuan rayap - rayap kecil. Atap yang sudah bolong di sana sini yang sanggup untuk menghalau teriknya Sang Raja Siang dan menghalau dinginnya terpaan air hujan. Dalam rumah yang sesak dan pengap itu tinggallah seorang penjual seblak Bandung bersama istri dan satu putranya.

Newer Post
This is the last post.

Post a Comment

Follow by Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Author Name

Image 1 Title

Image 1 Title

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.