IBX5980432E7F390 Mumusweb

Latest Post

10 orang agama android antivirus antivirus 2017 antivirus gratis 2017 Backlink bahasa indonesia Beasiswa Belajar Hacking Berkualitas bootloop cara instal cara instal McAFEE catatan Catatan Seorang Pejalan Cerita Cerpen CIREBON Deface Dongeng Bahasa Cirebon Dongeng Bahasa Inggris dongeng bahasa sunda Dork dork 2017 Dork Fresh dork fresh 2017 Download download antivirus download antivirus 2017 Drama Firmware Firmware ADVAN Firmware OPPO Firmware Samsung Flash Advan Flash Samsung Fresh 2017 galau gambar Google Drive Harga History History Borobudur history indonesia internasional internet KAIST Global ITTP kerajinan KERATON KASEPUHAN Kesehatan king of Sriwijaya Kingdom koleksi Korea Selatan Kumpulan Firmware Kumpulan Pidato Bahasa Cirebon kumpulan pidato bahasa sunda Kumpulan Puisi Kumpulan Puisi Keagamaan Legenda mastah mencari website vuln mengatasi lemot Nasional naskah naskah Drama Naskah Drama 10 Orang Pemain nembak cewe one of the king of Sriwijaya Kingdom OPPO orang pemain Pidato Bahasa CIrebon Pidato Bahasa CIrebon pidato bahasa sunda plangon Prakarya praktik kerja industri puisi puitis ratu marpuah Resep resep ayam resep ayam bakar script script deface sejarah bali Sejarah Cirebon sejarah indonesia sejarah kerajaan Sejarah Kerajaan Cirebon sertifikat shell deface SMKN 2 Kota Cirebon Spesifikasi sumber Surat terbaik tool hacking tools Tugas Sekolah tupar web vulnerability scanner Tutorial Flash tutorial instal update samsung upgrade upgrade samsung USB Password Recovery Tools video windows 7 windows seven XI Perbankan 2

Samudera Pasai adalah kerajaan Islam yang terdapat di pesisir pantai utara Sumatera, sekitaran Kota Lhokseumawe, Aceh Utara Propinsi Aceh, Indonesia sekarang ini. Kerajaan Samudera Pasai dibangun oleh Meurah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitaran th. 1267. 

Kehadiran Kerajaan Samudera Pasai terdaftar dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang berkunjung ke negeri ini pada th. 1345. Sebagian sejarahwan juga mulai menelusuri kehadiran kerajaan ini bersumberkan dari Hikayat Raja-raja Pasai, serta ini dihubungkan dengan sebagian makam raja dan penemuan koin memiliki bahan emas serta perak dengan tercantum nama rajanya. 



Berdasar pada Hikayat Raja-raja Pasai, bercerita mengenai pendirian Pasai oleh Meurah Silu, sebelumnya setelah ia menukar seseorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser. Meurah Silu ini terlebih dulu ada pada satu lokasi yang dimaksud dengan Semerlanga setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia meninggal dunia pada th. 696 H atau 1297 M. 

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai ataupun Sulalatus Salatin nama Pasai serta Samudera sudah dipisahkan mengacu pada dua lokasi yang berlainan, tetapi dalam catatan Tiongkok beberapa nama itu tidak dibedakan sekalipun. Sesaat Marco Polo dalam lawatannya mencatat sebagian daftar kerajaan yang berada di pantai timur Pulau Sumatera saat itu, dari selatan ke utara ada nama Ferlec (Perlak), Basma serta Samara (Samudera). 

Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh lalu dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada saat pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas jadi mata uang sudah dikenalkan di Pasai, bersamaan dengan mengembangnya Kerajaan Samudera Pasai jadi satu diantara lokasi perdagangan sekalian tempat pengembangan dakwah agama Islam. 

Sekitaran th. 1326 Sultan Muhammad Malik az-Zahir wafat dunia serta digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir serta memerintah hingga th. 1345. Pada saat pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, lalu bercerita kalau sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, serta penduduknya berpedoman Mazhab Syafi'i. 



Setelah itu pada saat pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit pada th. 1345 serta 1350, serta mengakibatkan Sultan Pasai sangat terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan. Kerajaan Samudera Pasai kembali bangkit di bawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir th. 1383, serta memerintah hingga th. 1405. Dalam kronik Cina ia dikenal juga dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, serta dijelaskan ia tewas oleh Raja Nakur. Setelah itu pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah. 

Armada Cheng Ho yang memimpin sekitaran 208 kapal berkunjung ke Kerajaan Samudera Pasai berturut ikut dalam th. 1405, 1408 serta 1412. Berdasar pada laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh beberapa pembantunya seperti Ma Huan serta Fei Xin. Dengan geografis Kesultanan Pasai digambarkan mempunyai batas lokasi dengan pegunungan tinggi disamping selatan serta timur, dan bila selalu ke arah timur bersebelahan dengan Kerajaan Aru, samping utara dengan laut, samping barat bersebelahan dengan dua kerajaan, Nakur serta Lide. 

Sedang bila selalu ke arah barat bersua dengan kerajaan Lambri (Lamuri) yang dijelaskan saat itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan itu Cheng Ho juga mengemukakan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya, sekitaran th. 1434 Sultan Pasai kirim saudaranya yang di kenal dengan Ha-li-zhi-han tetapi meninggal dunia di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk mengemukakan berita itu. Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terdapatnya pada Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. 

Menurut ibn Batuthah yang menggunakan saatnya sekitaran dua minggu di Pasai, mengatakan kalau kerajaan ini tidak mempunyai benteng pertahanan dari batu, tetapi sudah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak sebagian km. dari pelabuhannya. 

Pada lokasi inti kerajaan ini ada masjid, serta pasar dan dilewati oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan memberikan, walaupun muaranya besar tetapi ombaknya menggebu-gebu serta gampang menyebabkan kapal terbalik. Hingga penamaan Lhokseumawe yang bisa punya maksud teluk yang airnya berputar peluang terkait dengan adanya ini. 

Dalam susunan pemerintahan ada arti menteri, syahbandar serta kadi. Sesaat anak-anak sultan baik lelaki ataupun wanita digelari dengan Tun, demikian halnya sebagian pejabat kerajaan. Kesultanan Pasai mempunyai sebagian kerajaan bawahan, serta penguasanya juga bergelar sultan. 

Pada saat pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak sudah jadi sisi dari kedaulatan Pasai, lalu ia juga meletakkan salah seseorang anaknya yakni Sultan Mansur di Samudera. Tetapi pada saat Sultan Ahmad Malik az-Zahir, lokasi Samudera telah jadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetaplah berpusat di Pasai. Pada saat pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) dijelaskan jadi kerajaan bawahan dari Pasai. Disamping itu Pasai juga dijelaskan mempunyai hubungan yang jelek dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai serta menyebabkan Sultan Pasai terbunuh. 

Pasai adalah kota dagang, memercayakan lada jadi komoditi andalannya, dalam catatan Ma Huan dijelaskan 100 kati lada di jual dengan harga perak 1 tahil. Dalam perdagangan Kesultanan Pasai keluarkan koin emas jadi alat transaksi pada orang-orangnya, mata uang ini dimaksud Deureuham (dirham) yang di buat 70% emas murni dengan berat 0. 60 gr, diameter 10 mm, kualitas 17 karat. 

Sesaat orang-orang Pasai biasanya sudah menanam padi di ladang, yang dipanen 2 kali satu tahun, dan memilki sapi perah untuk hasilkan keju. Sedang tempat tinggal penduduknya mempunyai tinggi rata-rata 2. 5 mtr. yang disekat jadi sebagian bilik, dengan lantai terbuat dari bilah-bilah kayu kelapa atau kayu pinang yang disusun dengan rotan, serta di atasnya dihamparkan tikar rotan atau pandan. 

Islam adalah agama yang diyakini oleh orang-orang Pasai, walaupun dampak Hindu serta Buddha juga ikut memberi warna orang-orang ini. Dari catatan Ma Huan serta Tomé Pires, sudah memperbandingkan serta mengatakan kalau sosial budaya orang-orang Pasai serupa dengan Malaka, seperti bhs, ataupun kebiasaan pada upacara kelahiran, perkawinan serta kematian. Peluang persamaan ini mempermudah penerimaan Islam di Malaka serta hubungan yang akrab ini dipererat oleh ada pernikahan pada putri Pasai dengan raja Malaka seperti dikisahkan dalam Sulalatus Salatin. 

Mendekati masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, berlangsung sebagian pertikaian di Pasai yang menyebabkan perang saudara. Sulalatus Salatin bercerita Sultan Pasai memohon pertolongan pada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan itu. Tetapi Kesultanan Pasai sendiri pada akhirnya roboh sesudah dikalahkan oleh Portugal th. 1521 yang terlebih dulu sudah menaklukan Melaka th. 1511, serta lalu th. 1524 lokasi Pasai telah jadi sisi dari kedaulatan Kesultanan Aceh. 

Sultan Serta Sultanah Yang Sempat Memimpin Samudura Pasai
Sultan Malikussaleh (Meurah Silu)
1267
Sultan Al-Malik azh-Zhahir I/Muhammad
1297
Sultan Ahmad I
1326
Sultan Al-Malik azh-Zhahir II
133?
Sultan Zainal Abidin I
1349
Ratu Nahrasyiyah
1406
Sultan Zainal Abidin II
1428
Sultan Shalahuddin
1438
Sultan Ahmad II
1462
Sultan Abu Zaid Ahmad III
1464
Sultan Ahmad IV
1466
Sultan Mahmud
1466
Sultan Zainal Abidin III
1468
Sultan Muhammad Syah II
1474
Sultan Al-Kamil
1495
Sultan Adlullah
1495
Sultan Muhammad Syah III
1506
Sultan Abdullah
1507
Sultan Ahmad V
1507
Sultan Zainal Abidin IV
1514

Sejarah Kerajaan Kutai adalah kerajaan hindu tertua di indonesia
Tahukah anda mengenai Kerajaan Kutai??? Bila anda belum juga ketahuinya anda pas sekali berkunjung ke kesini. Karna pada saat ini juga akan mengulas mengenai sejarah Kerajaan Kutai, raja-raja Kerajaan Kutai, peninggalan Kerajaan Kutai, serta kehidupan politik Kerajaan Kutai dengan lengkap. Oleh karenanya mari simak penjelasan yang ada di bawah di bawah ini. 

Sejarah Kerajaan Kutai 

Kerajaan Kutai (Martadipura) adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai diprediksikan keluar pada era 5 M atau ± 400 M. Kerajaan ini terdapat di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong), persisnya di hulu sungai Mahakam. Nama Kutai di ambil dari nama tempat diketemukannya prasasti yang melukiskan kerajaan itu. Nama Kutai didapatkan dari beberapa pakar karna tak ada prasasti yang dengan terang mengatakan nama kerajaan ini. Karna benar-benar sangat sedikit info yang bisa didapat karena minimnya sumber histori. 

Kehadiran kerajaan itu di ketahui berdasar pada sumber berita yang diketemukan yakni berbentuk prasasti yang berupa yupa/tiang batu sejumlah 7 buah. Yupa yang memakai huruf Pallawa serta bhs sansekerta itu, bisa diambil kesimpulan mengenai kehadiran Kerajaan Kutai dalam beragam segi kebudayaan, diantaranya politik, sosial, ekonomi, serta budaya. Mengenai isi prasati itu menyebutkan kalau raja pertama Kerajaan Kutai bernama Kudungga. Ia memiliki seseorang putra bernama Asawarman yang dikatakan sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga). Sesudah wafat, Asawarman digantikan oleh Mulawarman. Pemakaian nama Asawarman serta beberapa nama raja pada generasi selanjutnya tunjukkan sudah masuknya dampak ajaran Hindu dalam Kerajaan Kutai serta hal itu menunjukkan kalau raja-raja Kutai yaitu orang Indonesia asli yang sudah memeluk agama Hindu. 

Silsilah Raja-Raja Kerajaan Kutai 
  1. Maharaja KudunggaYaitu raja pertama yang berkuasa di kerajaan kutai. Nama Maharaja Kudungga oleh beberapa pakar histori ditafsirkan jadi nama asli orang Indonesia yang belum juga dipengaruhi dengan nama budaya India. Bisa kita saksikan, nama raja itu masih tetap memakai nama lokal hingga beberapa pakar memiliki pendapat kalau pada saat pemerintahan Raja Kudungga dampak Hindu baru masuk ke wilayahnya. Kedudukan Raja Kudungga awal mulanya yaitu kepala suku. Dengan masuknya dampak Hindu, ia merubah susunan pemerintahannya jadi kerajaan serta mengangkat dianya jadi raja, hingga pergantian raja dikerjakan dengan turun temurun.
  2. Maharaja Asmawarman Prasasti yupa bercerita kalau Raja Aswawarman yaitu raja yang cakap serta kuat. Pada saat pemerintahannya, lokasi kekuasaan Kutai diperluas sekali lagi. Hal semacam ini dibuktikan dengan dikerjakannya Upacara Asmawedha pada eranya. Upacara-upacara ini sempat dikerjakan di India pada saat pemerintahan Raja Samudragupta saat menginginkan memperluas wilayahnya. Dalam upacara itu dikerjakan pelepasan kuda dengan maksud untuk memastikan batas kekuasaan Kerajaan Kutai (ditetapkan dengan tapak kaki kuda yang terlihat pada tanah sampai tapak yang paling akhir terlihat disitulah batas kekuasaan Kerajaan Kutai). Pelepasan kuda-kuda itu dibarengi oleh prajurit Kerajaan Kutai.
  3. Maharaja MulawarmanRaja Mulawarman adalah anak dari Raja Aswawarman sebagai penerusnya. Nama Mulawarman serta Aswawarman begitu kental dengan dampak bhs Sanskerta apabila diliat dari langkah penulisannya. Raja Mulawarman yaitu raja paling besar dari Kerajaan Kutai. Dibawah pemerintahannya, Kerajaan Kutai alami masa kejayaannya. Rakyat-rakyatnya hidup tentram serta sejahtera sampai Raja Mulawarman membuat upacara kurban emas yang sangat banyak. 
  • Maharaja Irwansyah 
  • Maharaja Sri Aswawarman 
  • Maharaja Marawijaya Warman 
  • Maharaja Gajayana Warman 
  • Maharaja Tungga Warman 
  • Maharaja Jayanaga Warman 
  • Maharaja Nalasinga Warman 
  • Maharaja Nala Parana Tungga 
  • Maharaja Gadingga Warman Dewa 
  • Maharaja Indra Warman Dewa 
  • Maharaja Sangga Warman Dewa 
  • Maharaja Singsingamangaraja XXI 
  • Maharaja Candrawarman 
  • Maharaja Prabu Nefi Suriagus 
  • Maharaja Ahmad Ridho Darmawan 
  • Maharaja Riski Subhana 
  • Maharaja Sri Langka Dewa 
  • Maharaja Guna Parana Dewa 
  • Maharaja Wijaya Warman 
  • Maharaja Indra Mulya 
  • Maharaja Sri Aji Dewa 
  • Maharaja Mulia Putera 
  • Maharaja Nala Pandita 
  • Maharaja Indra Paruta Dewa 
  • Maharaja Dharma Setia 

Peninggalan Kerajaan Kutai 

Peninggalan Sejarah Kerajaan Kutai Di era 21 saat ini, sebagian peninggalan histori Kerajaan Kutai masih tetap dapat kita dapatkan di Museum Mulawarman yang letaknya berada di Kota Tenggarong, Kutai Kartanegara. Bila Anda satu waktu bertandang ke kota itu, sempatkanlah diri Anda untuk menengok bukti kebesaran dari kerajaan kutai. Saya sendiri sekian waktu lalu bertandang kesana. Dengan ticket masuk Rp. 2. 000, saya sudah berhasil nikmati bukti eksotika masa lalu dengan lihat sebagian penginggalan kerajaan kutai. Apa sajakah peninggalannya yakni seperti berikut : 

  1. Prasasti Yupa Prasasti Yupa yaitu satu diantara peninggalan histori kerajaan kutai yang paling tua. benda bersejarah satu ini adalah bukti terkuat ada kerajaan hindu yang bercokol diatas tanah Kalimantan. Sekurang-kurangnya ada 7 prasasti yupa yang sampai saat ini tetap masih ada.
  2. Ketopong Sultan Ketopong yaitu mahkota Sultan Kerajaan Kutai yang terbuat dari emas. Beratnya 1, 98 kg serta sekarang ini disimpan di Musium Nasional di Jakarta. Ketopong sultan kutai diketemukan pada 1890 di daerah Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Di Musium Mulawarman sendiri, ketopong yang dipajang yaitu ketopong tiruan.
  3. Kalung Ciwa
    Kalung Ciwa yaitu peninggalan histori kerajaan Kutai yang diketemukan pada saat pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Penemuan berlangsung pada th. 1890 oleh seseorang masyarakat di sekitaran Danau Lipan, Muara Kaman. Kalung Ciwa sendiri sampai sekarang ini masih tetap dipakai jadi perhiasan kerajaan serta digunakan oleh sultan waktu ada pesta penobatan sultan baru.
  4. Kalung UncalKalung Uncal yaitu kalung emas seberat 170 gr yang dihiasi liontin berelief narasi ramayana. Kalung ini jadi atribut kerajaan Kutai Martadipura serta mulai dipakai oleh Sultan Kutai Kartanegara saat Kutai Martadipura berhasil di taklukan. Mengenai berdasarkan riset beberapa pakar, kalung uncal sendiri diprediksikan datang dari India (Unchele). Didunia, sekarang ini cuma ada 2 kalung uncal, satu ada di India serta satunya sekali lagi berada di Museum Mulawarman, Kota Tenggarong.
  5. Kura-Kura EmasPeninggalan histori kerajaan kutai yang menurut saya cukup unik yaitu kura-kura emas. Benda ini saat ini berada di Musium Mulawarman. Ukurannya sebesar 1/2 kepalan tangan. Serta berdasar pada label yang tercantum didalam etalasenya, benda unik ini diketemukan di daerah Long Lalang, daerah yang terdapat di hulu sungai Mahakam. Mengenai berdasarkan kisah, benda ini di ketahui adalah persembahan dari seseorang pangeran dari Kerajaan di China untuk sang putri raja Kutai, Aji Bidara Putih. Sang Pangeran memberi sebagian benda unik pada kerajaan jadi bukti kesungguhannya yang menginginkan mempersunting sang putri.
  6. Pedang Sultan KutaiPedang Sultan Kutai terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir gambar seekor harimau yang tengah siap menerkam, sesaat pada ujung sarung pedang dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai sekarang ini bisa Anda saksikan di Museum Nasional, Jakarta.
  7. Tali JuwitaTali juwita yaitu peninggalan kerajaan kutai yang melambangkan 7 muara serta 3 anak sungai (sungai Kelinjau, Belayan serta Kedang Pahu) yang dipunyai sungai mahakam. Tali juwita terbuat dari benang yang banyak 21 helai serta biasanyan dipakai dalam upacara kebiasaan Bepelas.
  8. Keris BukitKang Keris bukit kang yaitu keris yang dipakai oleh Permaisuri Aji Putri Karang Melenu, permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama. Berdasar pada legenda, permaisuri ini yaitu putri yang diketemukan dalam satu gong yang tenggelam diatas balai bambu. Dalam gong itu, terkecuali ada seseorang bayu wanita, di dalamnya juga ada satu telur ayam serta satu keris, keris bukit kang.
  9. Kelambu KuningTerdapat banyak benda peninggalan kerajaan yang diakui mempunyai kemampuan magis oleh orang-orang kebiasaan Kutai sampai sekarang ini. benda-benda ini diletakkan dalam kelambu kuning untuk hindari tuah serta bala yang dapat ditimbulkannya. Sebagian benda peninggalan histori kerajaan kutai itu diantaranya kelengkang besi, tajau, gong raden galuh, gong bende, arca singa, sangkoh piatu, dan Keliau Aji Siti Berawan.
  10. Singgasana SultanSinggasana sultan adalah peninggalan histori kerajaan kutai yang tetap masih terbangun sampai saat ini. Benda itu terdapat di Museum Mulawarman. Dulu Setinggil/Singgasana ini dipakai oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sultan Aji Muhammad Parikesit, serta raja-raja kerajaan kutai terlebih dulu. Singgasana ini diperlengkapi dengan payung, umbul-umbul, serta peraduan pengantin Kutai Keraton.
  11. Meriam Kerajaan kutaiadalah kerajaan yang diperlengkapi dengan system pertahanan kuat. Hal semacam ini dibuktikan oleh banyak peninggalan histori berbentuk meriam serta sebagian alat bela diri yang lain. Mengenai meriam, kerajaan kutai mempunyai 4 yang sampai saat ini masih tetap terbangun dengan rapi. Ke-4 meriam itu diantaranya Meriam Sapu Jagat, Meriam Gentar Bumi, Meriam Aji Entong, serta Meriam Sri Gunung. Peninggalan.
  12. Tombak Kerajaan MajapahitTombak-tombak tua yang datang dari Kerajaan Majapahit juga adalah peninggalan histori kerajaan kutai. Ya, tombak-tombak itu sudah berada di Muara Kaman mulai sejak dahulu. Ini menunjukkan bila kerajaan kutai serta Kerajaan Majapahit pada saat yang lalu mempunyai hubungan yang begitu erat. Peninggalan
  13. Keramik Kuno TiongkokBeberapa ratus keramik kuno yang diprediksikan datang dari beragam dinasti di kekaisaran Cina tempo dahulu yang pernah diketemukan tertimbun di sekitaran danau Lipan menunjukkan kalau kerajaan kutai serta kekaisaran china sudah lakukan hubungan perdagangan yang erat pada saat yang lalu. Beberapa ratus keramik kuno sebagai peninggalan histori kerajaan Kutai itu saat ini tersimpan di ruangan bawah tanah musium mulawarman di Tenggarong, Kutai kartanegara. Peninggalan
  14. Gamelan Gajah PrawotoDi Museum Mulawarman sekarang ini juga ada seperangkat gamelan. Gamelan-gamelan ini dipercaya datang dari pulau Jawa. Tidak cuma itu, sebagian topeng, keris, pangkon, wayang kulit, dan beberapa barang kuningan serta perak yang ada jadi peninggalan histori kerajaan kutai tempo yang lalu juga menunjukkan kalau sudah ada hubungan erat pada kerajaan-kerajaan di Jawa dengan Kerajaan Kutai Kartanegara 

Kehidupan Politik Kerajaan Kutai 

Kehidupan politik yang diterangkan dalam yupa kalau raja paling besar Kutai yaitu Mulawarman, putra Aswawarman serta Aswawarman yaitu putra Kudungga. Dalam yupa diterangkan kalau Aswawarman dikatakan sebagai Dewa Matahari serta pendiri keluarga raja. Hal semacam ini bermakna Aswawarman telah berpedoman agama Hindu serta dilihat jadi pendiri keluarga. Tersebut disini keterangan tentang raja – raja di Kutai. 

Raja Kudungga yaitu raja pertama yang berkuasa di Kerajaan Kutai. Namun, jika diliat dari nama Raja yang masih tetap memakai nama Indonesia, beberapa pakar memiliki pendapat kalau pada saat pemerintahan Raja Kudungga memiliki pendapat kalau pada saat pemerintahan Raja Kudungga dampak Hindu baru masuk ke wilayahnya. Kedudukan Raja Kudungga awal mulanya yaitu kepala suku. 
Aswawarman yaitu raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu. Ia juga di ketahui jadi pendiri dinasti Kerajaan Kutai hingga di beri titel Wangsakerta, yang berarti pembentuk keluarga. Aswawarman mempunyai 3 orang putra serta salah nya ialah Mulawarman. 
Mulawarman kental dengan dampak bhs Sanskerta bila diliat dari langkah penulisannya. Mulawarman yaitu raja paling besar dari Kerajaan Kutai. Dibawah pemerintahannya, Kerajaan Kutai alami masa yang gemilang. Dari Yupa di ketahui kalau masa pemerintahan Mulawarman, kerajaan Kutai alami masa keemasan. Lokasi kekuasaannya mencakup nyaris semua lokasi Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera serta makmur 

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Kutai 

Kehidupan ekonomi di kutai dijelaskan dalam satu diantara prasasti kalau Raja Mulawarman sudah membuat upacara korban emas serta memberikan hadiah 20. 000 ekor sapi untuk kelompok Brahmana. Tidak di ketahui dengan tentu asal emas serta sapi itu didapat. Jika emas serta sapi itu dihadirkan dari tempat beda, dapat diambil kesimpulan kalau kerajaan Kutai sudah lakukan aktivitas dagang. 

Kehidupan Sosial Serta Budaya Kerajaan Kutai 
Dalam kehidupan sosial tersambung hubungan yang serasi pada Raja Mulawarman dengan Golongan Brahmana, seperti yang diterangkan dalam Yupa, kalau Raja Mulawarman berikan sedekah 20. 000 ekor sapi pada Golongan Brahmana didalam tanah yang suci bernama Waprakeswara. Arti Waprakeswara tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. 

Dalam kehidupan budaya Kerajaan Kutai telah maju. Hal semacam ini dibuktikan lewat upacara penghinduan yang dimaksud Vratyastoma. Pada saat Mulawarman upacara penghinduan itu di pimpin oleh pendeta Brahmana dari orang Indonesia asli. Ada golongan Brahmana asli orang Indonesia menunjukkan kalau kekuatan intelektualnya tinggi, terlebih penguasaan pada bhs Sanskerta. 

Kejayaan Kerajaan Kutai 

Masa kejayaan Kerajaaan Kutai ada pada massa pemerintahan Raja Mulawarman. Hal semacam ini karna beliau demikian bijaksana serta royal untuk beberapa hal yang religius. Beberapa brahmana dihadiahi emas, tanah, serta ternak dengan adil, pengadaan upacara sedekah ditempat yang dipandang suci atau Waprakeswara. Serta dibuktikan dengan juga pemberian sedekah pada golongan Brahmana berbentuk 20. 000 ekor sapi. Jumlah 20. 000 ekor sapi ini menunjukkan kalau pada saat itu kerajaan Kutai sudah memiliki kehidupan yang makmur serta sudah menjangkau massa kejayaannya. 

Runtuhnya Kerajaan Kutai 

Kerajaan Kutai selesai waktu Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Butuh diingat kalau Kutai ini (Kutai Martadipura) berlainan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kalinya ada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara berikut, di th. 1365, yang dijelaskan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara setelah itu jadi kerajaan Islam yang dimaksud Kesultanan Kutai Kartanegara.

Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan medang periode jateng) adalah lanjutan dari kerajaan kalingga di jateng sekitaran era ke 8 M, yang setelah itu geser ke provinsi jawa timur pada era 10. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu bermanfaat untuk membedakan kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitaran era ke 16. Kerajaan ini roboh pada awal era ke 11. 

Penamaan 

Biasanya, arti Kerajaan Medang cuma umum digunakan untuk mengatakan periode Jawa Timur saja, walau sebenarnya berdasar pada prasasti-prasasti yang sudah diketemukan, nama Medang telah di kenal mulai sejak periode terlebih dulu, yakni periode Jawa Tengah. Disamping itu, nama yang umum digunakan untuk mengatakan Kerajaan Medang periode Jawa Tengah yaitu Kerajaan Mataram, yakni mengacu pada salah daerah ibu kota kerajaan ini. Terkadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada era ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah umum juga dimaksud dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu. 

Pusat Kerajaan 

Bhumi Mataram yaitu sebutan lama untuk Yogyakarta serta sekelilingnya. Di daerah berikut untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diprediksikan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini diketemukan dalam sebagian prasasti, umpamanya prasasti Minto serta prasasti Anjuk ladang. Arti Mataram lalu umum digunakan untuk mengatakan nama kerajaan keseluruhannya, walau tidak selama-lamanya kerajaan ini berpusat disana. 

Sebenarnya, pusat Kerajaan Medang sempat alami sekian kali perpindahan, bahkan juga hingga ke daerah Jawa Timur saat ini. Banyak daerah yang sempat jadi tempat istana Medang berdasar pada prasasti-prasasti yang telah diketemukan antaralain : 
  1. Medang i Bhumi Mataram (jaman Sanjaya) 
  2. Medang i Mamrati (jaman Rakai Pikatan) 
  3. Medang i Poh Pitu (jaman Dyah Balitung) 
  4. Medang i Bhumi Mataram (jaman Dyah Wawa) 
  5. Medang i Tamwlang (jaman Mpu Sindok) 
  6. Medang i Watugaluh (jaman Mpu Sindok) 
  7. Medang i Wwatan (jaman Dharmawangsa Teguh) 

Menurut perkiraan, Mataram terdapat di daerah Yogyakarta saat ini. Mamrati serta Poh Pitu diprediksikan terdapat di daerah Kedu. Disamping itu, Tamwlang saat ini dimaksud dengan nama Tembelang, sedang Watugaluh saat ini dimaksud Megaluh. Keduanya terdapat di daerah Jombang. Istana paling akhir, yakni Wwatan, saat ini dimaksud dengan nama Wotan, yang terdapat di daerah Madiun. 

Awal berdirinya kerajaan 

Prasasti Mantyasih th. 907 atas nama Dyah Balitung mengatakan dengan terang kalau raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) yaitu Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Sanjaya sendiri keluarkan prasasti Canggal th. 732, tetapi tidak mengatakan dengan terang apa nama kerajaannya. Ia cuma memberitakan ada raja beda yang memerintah pulau Jawa sebelumnya dianya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara jadi kacau. Sanjaya lalu tampak jadi raja, atas support ibunya, yakni Sannaha, saudara wanita Sanna. 

Sanna, dikenal juga dengan nama " Sena " atau " Bratasenawa ", adalah raja Kerajaan Galuh yang ke-3 (709 - 716 M). Bratasenawa dengan kata lain Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam th. 716 M. Sena pada akhirnya melarikan diri ke Pakuan, memohon perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang disebut raja pertama Kerajaan Sunda (sesudah Tarumanegara pecah jadi Kerajaan Sunda serta Kerajaan Galuh) yaitu teman dekat baik Sanna. Persahabatan ini juga yang mendorong Tarusbawa ambil Sanjaya jadi menantunya. Sanjaya, anak Sannaha saudara wanita Sanna, punya niat menuntut balas pada keluarga Purbasora. Karenanya ia memohon pertolongan Tarusbawa (mertuanya yangg adalah teman dekat Sanna). Keinginannya dikerjakan sesudah jadi Raja Sunda yang memerintah atas nama istrinya. Pada akhirnya Sanjaya jadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh serta Kerajaan Kalingga (sesudah Ratu Shima mangkat). Dalam th. 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelumnya ia meninggalkan lokasi Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan pada puteranya, Tamperan, serta Resi Guru Demunawan. Sunda serta Galuh jadi kekuasaan Tamperan, sedang Kerajaan Kuningan serta Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja. 

Dari prasasti Canggal, dapat didapat info bila Kerajaan Mataram Kuno sudah berdiri serta berkembang sekitaran era ke-7 M dengan raja yang pertama yaitu Sanjaya yang mempunyai titel Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. 

Dinasti yang berkuasa 

Biasanya beberapa sejarawan mengatakan ada tiga dinasti yang sempat berkuasa di Kerajaan Medang, yakni Wangsa Sanjaya serta Wangsa Sailendra pada periode Jawa Tengah, dan Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur. 

Arti Wangsa Sanjaya mengacu pada nama raja pertama Medang, yakni Raja Sanjaya. Dinasti ini berpedoman agama Hindu aliran Siwa. Berdasar pada pendapat van Naerssen, pada jaman pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Raja Sanjaya pada th. 770an), kekuasaan atas Medang diambil oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana. 

Mulai sejak waktu itu Wangsa Sailendra berkuasa di tanah Jawa, bahkan juga berhasil juga kuasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Hingga pada akhirnya, sekitaran th. 840-an, seseorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan menikah dengan Pramodawardhani yang disebut putri mahkota Wangsa Sailendra. Karena pernikahan itu ia dapat jadi raja di Medang, serta mengubahkan istana kerajaan Medang ke Mamrati. Hal itu dipandang jadi awal Bangkitan kembali Wangsa Sanjaya. 

Menurut teori Bosch, nama raja-raja Medang dalam Prasasti Mantyasih dipandang jadi anggota Wangsa Sanjaya keseluruhannya. Disamping itu Slamet Muljana memiliki pendapat kalau daftar itu yaitu daftar raja-raja yang sempat berkuasa di Medang, serta bukanlah daftar silsilah keturunan Sanjaya. 

Contoh yang diserahkan Slamet Muljana yaitu Rakai Panangkaran yang diyakininya bukanlah putra Sanjaya. Argumennya adalah, prasasti Kalasan th. 778 memberikan pujian pada Rakai Panangkaran jadi “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka). Dengan hal tersebut pendapat ini menampik teori van Naerssen mengenai kekalahan Rakai Panangkaran oleh seseorang raja Sailendra. 

Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja Medang versus Prasasti Mantyasih dari mulai Rakai Panangkaran s/d Rakai Garung yaitu anggota Wangsa Sailendra. Sedang kebangkitan Wangsa Sanjaya baru diawali mulai sejak Rakai Pikatan naik takhta menukar Rakai Garung. 

Arti Rakai pada jaman Medang identik dengan Bhre pada jaman Majapahit, yang berarti “penguasa di”. Jadi, titel Rakai Panangkaran sama berarti dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya diketemukan dalam prasasti Kalasan, yakni Dyah Pancapana. 

Slamet M lalu mengidentifikasi nama Rakai Panunggalan s/d Rakai Garung dengan nama raja-raja Wangsa Sailendra yang sudah di ketahui, umpamanya Dharanindra atau Samaratungga. yang sampai kini relatif dipandang bukanlah sisi dari daftar beberapa raja versus Prasasti Mantyasih. 

Disamping itu pada dinasti ke-3 yang berkuasa di Medang yaitu Wangsa Isana yang baru keluar pada ‘’periode Jawa Timur’’. Dinasti ini dibangun oleh Mpu Sindok yang membuat istana baru di Tamwlang th. 929an. Dalam prasastinya, Mpu Sindok mengatakan kalau kerajaannya adalah lanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram. 

Raja-raja yang memimpin Kerajaan Medang 

Daftar raja-raja Medang menutur teori Slamet Muljana yaitu seperti berikut : 

  1. Sanjaya, (adalah pendiri Kerajaan Medang) 
  2. Rakai Panangkaran, (awal berkuasanya Wangsa Syailendra) 
  3. Rakai Panunggalan dengan kata lain Dharanindra 
  4. Rakai Warak dengan kata lain Samaragrawira 
  5. Rakai Garung dengan kata lain Samaratungga 
  6. Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, (awal kebangkitan Wangsa Sanjaya) 
  7. Rakai Kayuwangi dengan kata lain Dyah Lokapala 
  8. Rakai Watuhumalang 
  9. Rakai Watukura Dyah Balitung 
  10. Mpu Daksa 
  11. Rakai Layang Dyah Tulodong 
  12. Rakai Sumba Dyah Wawa 
  13. Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur 
  14. Sri Lokapala (merupaka suami dari Sri Isanatunggawijaya) 
  15. Makuthawangsawardhana 
  16. Dharmawangsa Teguh, (selesainya Kerajaan Medang) 

Pada daftar diatas cuma Sanjaya yang menggunakan titel Sang Ratu, sedang raja selanjutnya menggunakan titel Sri Maharaja. 

Susunan Pemerintahan 

Raja adalah pemimpin teratas Kerajaan Medang. Sanjaya jadi raja pertama menggunakan titel Ratu. Pada jaman itu arti Ratu belum juga identik dengan golongan wanita. Titel ini sama dengan Datu yang bermakna " pemimpin ". Keduanya adalah titel asli Indonesia. Saat Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, titel Ratu dihapusnya serta ditukar dengan titel Sri Maharaja. Masalah yang sama berlangsung pada Kerajaan Sriwijaya dimana raja-rajanya awal mulanya bergelar Dapunta Hyang, serta sesudah dikuasai Wangsa Sailendra juga beralih jadi Sri Maharaja. 

Penggunaan titel Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetaplah dilestarikan oleh Rakai Pikatan walau Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal semacam ini bisa diliat dalam daftar raja-raja versus Prasasti Mantyasih yang mengatakan cuma Sanjaya yang bergelar Sang Ratu. Jabatan teratas setelah raja adalah Rakryan Mahamantri i Hino atau terkadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang mempunyai kesempatan untuk naik takhta setelah itu. Umpamanya, Mpu Sindok adalah Mapatih Hino pada saat pemerintahan Dyah Wawa. 

Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada jaman ini berlainan dengan Rakryan Mapatih pada jaman Majapahit. Patih jaman Majapahit sama dengan perdana menteri tetapi tidak memiliki hak untuk naik takhta. Jabatan setelah Mahamantri i Hino dengan berturut-turut yaitu Mahamantri i Halu serta Mahamantri i Sirikan. Pada jaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih tetap ada tetapi sekedar hanya titel kehormatan saja. Pada jaman Wangsa Isana berkuasa masih tetap ditambah sekali lagi dengan jabatan Mahamantri Wka serta Mahamantri Bawang. 

Jabatan teratas di Medang setelah itu adalah Rakryan Kanuruhan jadi pelaksana perintah raja. Mungkin saja seperti perdana menteri pada jaman saat ini atau sama dengan Rakryan Mapatih pada jaman Majapahit. Jabatan Rakryan Kanuruhan pada jaman Majapahit memanglah masih tetap ada, tetapi sangkanya sama dengan menteri dalam negeri pada jaman saat ini. 

Perubahan Pemerintahan 

Sebelumnya Sanjaya berkuasa di Mataram Kuno, di Jawa telah berkuasa seseorang raja bernama Sanna. Menurut prasasti Canggal yang berangka th. 732 M, diterangkan kalau Raja Sanna sudah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya yaitu putra Sanaha, saudara wanita dari Sanna. 

Dalam Prasasti Sojomerto yang diketemukan di Desa Sojomerto, Kabupaten Batang, dimaksud nama Dapunta Syailendra yang beragama Syiwa (Hindu). Diprediksikan Dapunta Syailendra datang dari Sriwijaya serta turunkan Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa sisi tengah. Dalam hal semacam ini Dapunta Syailendra diprediksikan yang turunkan Sanna, jadi raja di Jawa. 

Sanjaya tampak memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada th. 717 - 780 M. Ia meneruskan kekuasaan Sanna. Sanjaya lalu lakukan penaklukan pada raja-raja kecil sisa bawahan Sanna yang melepas diri. Kemudian, pada th. 732 M Raja Sanjaya membangun bangunan suci jadi tempat pemujaan. Bangunan ini berbentuk lingga serta ada diatas Gunung Wukir (Bukit Stirangga). Bangunan suci itu adalah simbol kesuksesan Sanjaya dalam mengalahkan raja-raja beda. 

Raja Sanjaya berlaku arif, adil dalam memerintah, serta mempunyai pengetahuan luas. Beberapa pujangga serta rakyat hormat pada rajanya. Oleh karenanya, dibawah pemerintahan Raja Sanjaya, kerajaan jadi aman serta tenteram. Rakyat hidup makmur. Mata pencaharian perlu yaitu pertanian dengan hasil paling utama padi. Sanjaya dikenal juga jadi raja yang memahami juga akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci dibuat oleh Sanjaya untuk pemujaan lingga diatas Gunung Wukir, jadi simbol sudah dikalahkannya raja-raja kecil di sekelilingnya yang dahulu mengaku kemaharajaan Sanna. 

Sesudah Raja Sanjaya meninggal dunia, ia digantikan oleh putranya bernama Rakai Panangkaran. Panangkaran mensupport ada perubahan agama Buddha. Dalam Prasasti Kalasan yang berangka th. 778, Raja Panangkaran sudah menghadiahkan tanah serta memerintahkan membuat satu candi untuk Dewi Tara serta satu biara untuk beberapa pendeta agama Buddha. Tanah serta bangunan itu terdapat di Kalasan. Prasasti Kalasan juga menjelaskan kalau Raja Panangkaran dimaksud dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran. Raja Panangkaran lalu mengubahkan pusat pemerintahannya ke arah timur. 

Raja Panangkaran di kenal jadi penakluk yang gagah berani untuk musuh-musuh kerajaan. Daerahnya jadi bertambah luas. Ia juga dikatakan sebagai permata dari Dinasti Syailendra. Agama Buddha Mahayana saat itu berkembang cepat. Ia juga memerintahkan dibangunnya bangunan-bangunan suci. Umpamanya, Candi Kalasan serta arca Manjusri. 

Sesudah kekuasaan Penangkaran selesai, muncul masalah dalam keluarga Syailendra, karna ada perpecahan pada anggota keluarga yang telah memeluk agama Buddha dengan keluarga yang masih tetap memeluk agama Hindu (Syiwa). Hal semacam ini menyebabkan perpecahan didalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno. Satu pemerintahan di pimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana yang berpedoman agama Hindu berkuasa di daerah Jawa sisi utara. Lalu keluarga yang terdiri atas tokoh-tokoh yang beragama Buddha berkuasa di daerah Jawa sisi selatan. Keluarga Syailendra yang beragama Hindu meninggalkan bangunanbangunan candi di Jawa sisi utara. Umpamanya, candi-candi kompleks Pegunungan Dieng (Candi Dieng) serta kompleks Candi Gedongsongo. Kompleks Candi Dieng menggunakan namanama tokoh wayang seperti Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, serta Semar. 

Sesaat yang beragama Buddha meninggalkan candi-candi seperti Candi Ngawen, Mendut, Pawon serta Borobudur. Candi Borobudur diprediksikan mulai dibuat oleh Samaratungga pada th. 824 M. Pembangunan lalu dilanjutkan pada jaman Pramudawardani serta Pikatan. 

Perpecahan didalam keluarga Syailendra tidak berjalan lama. Keluarga itu pada akhirnya menyatu kembali. Hal semacam ini diikuti dengan perkawinan Rakai Pikatan serta keluarga yang beragama Hindu dengan Pramudawardani, putri dari Samaratungga. Perkawinan itu berlangsung pada th. 832 M. Kemudian, Dinasti Syailendra menyatu kembali dibawah pemerintahan Raja Pikatan. 

Sesudah Samaratungga meninggal dunia, anaknya dengan Dewi Tara yang bernama Balaputradewa tunjukkan sikap menentang pada Pikatan. Lalu berlangsung perang persaingan perebutan kekuasaan pada Pikatan dengan Balaputradewa. Dalam perang ini Balaputradewa buat benteng pertahanan di perbukitan di samping selatan Prambanan. Benteng ini saat ini sangka kenal dengan Candi Boko. Dalam pertempuran, Balaputradewa tertekan serta melarikan diri ke Sumatra. Balaputradewa lalu jadi raja di Kerajaan Sriwijaya. 

Kerajaan Mataram Kuno daerahnya jadi bertambah luas. Kehidupan agama berkembang cepat th. 856 Rakai Pikatan turun takhta serta digantikan oleh Kayuwangi atau Dyah Lokapala. Kayuwangi lalu digantikan oleh Dyah Balitung. Raja Balitung adalah raja yang paling besar. Ia memerintah pada th. 898 - 911 M dengan titel Sri Maharaja Rakai Wafukura Dyah Balitung Sri Dharmadya Mahasambu. Pada pemerintahan Balitung bagianbidang politik, pemerintahan, ekonomi, agama, serta kebudayaan alami perkembangan. Ia sudah membuat Candi Prambanan jadi candi yang anggun serta megah. Relief-reliefnya begitu indah.

Setelah pemerintahan Balitung selesai, Kerajaan Mataram mulai alami kemunduran. Raja yang berkuasa sesudah Balitung yaitu Daksa, Tulodong, serta Wawa. Sebagian aspek yang mengakibatkan kemunduran Mataram Kuno diantaranya ada bencana alam serta ancaman dari musuh yakni Kerajaan Sriwijaya. 

Perseteruan takhta periode Jawa Tengah 

Pada saat pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan (sekitaran 856 – 880–an), diketemukan sebagian prasasti atas nama raja-raja beda, yakni Maharaja Rakai Gurunwangi serta Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Hal semacam ini tunjukkan bila ketika itu Rakai Kayuwangi tidaklah hanya satu maharaja di Pulau Jawa. Sedang menurut prasasti Mantyasih, raja setelah Rakai Kayuwangi yaitu Rakai Watuhumalang. 

Dyah Balitung yang disangka adalah menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali kekuasaan semua Jawa, bahkan juga hingga Bali. Pemerintahan Balitung selesai karna berlangsung kudeta yang dilancarkan oleh Mpu Daksa yang mengakui jadi keturunan asli dari Sanjaya. Ia sendiri lalu digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong. Tidak di ketahui dengan tentu alur terjadinya sistem suksesi ini jalan. Tulodhong pada akhirnya tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang terlebih dulu mempunyai jabatan jadi pegawai pengadilan. 

Permusuhan dengan Sriwijaya 

Terkecuali kuasai Medang, Wangsa Sailendra juga kuasai Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra. Hal semacam ini diikuti dengan diketemukannya Prasasti Ligor th. 775 yang mengatakan nama Maharaja Wisnu dari Wangsa Sailendra jadi penguasa Sriwijaya. Hubungan senasib pada Jawa serta Sumatra beralih jadi permusuhan saat Wangsa Sanjaya bangkit kembali memerintah Medang. Menurut teori de Casparis, sekitaran th. 850, Rakai Pikatan bisa singkirkan anggota Wangsa Sailendra bernama Balaputradewa. 

Balaputradewa lalu jadi raja Sriwijaya dimana ia tetaplah menaruh dendam pada Rakai Pikatan yang sudah singkirkannya. Perselisihan pada ke-2 raja ini berkembang jadi permusuhan dengan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Diluar itu, Medang serta Sriwijaya juga berkompetisi untuk kuasai jalan raya perdagangan di Asia Tenggara. Rasa permusuhan Wangsa Sailendra pada Jawa selalu berlanjut bahkan juga saat Wangsa Isana berkuasa. Pada saat Mpu Sindok mulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran berlangsung di daerah Anjukladang (saat ini Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok. 

Momen Mahapralaya 

Mahapralaya yaitu momen hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasar pada berita dalam prasasti Pucangan. Th. terjadinya momen itu tidak bisa di baca dengan terang hingga keluar dua versus pendapat. Beberapa sejarawan mengatakan Kerajaan Medang roboh pada th. 1006, sedang yang lain mengatakan th. 1016. Raja paling akhir Medang yaitu Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari Dinasti Song mencatat sudah sekian kali Dharmawangsa kirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya mulai sejak ia naik takhta th. 991. Permusuhan pada Jawa serta Sumatra makin memanas waktu itu. 

Pada th. 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Saat ia membuat pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserang oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diprediksikan jadi sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam momen itu, Dharmawangsa tewas. Tiga th. lalu, seseorang pangeran berdarah kombinasi Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampak membuat kerajaan baru jadi lanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengakui kalau ibunya yaitu keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan lalu umum dimaksud dengan nama Kerajaan Kahuripan. 

Peninggalan Sejarah 

Terkecuali memiliki peninggalan histori berbentuk prasasti yang menyebar di Jawa Tengah ataupun Jawa Timur, Kerajaan Medang (Mataran Kuno) juga membuat banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu atau Buddha. Temuan Wonoboyo berbentuk artifak emas yang diketemukan th. 1990 di Wonoboyo, Klaten, tunjukkan kekayaan serta kehalusan seni budaya kerajaan Medang. 

Candi peninggalan Kerajaan Medang diantaranya, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, serta Candi Borobudur. 

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno berbentuk Prasasti :. 
Prasasti Kalasan, diketemukan di desa Kalasan Yogyakarta berangka th. 778 M, ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) serta bhs Sansekerta. 

Prasasti Klurak diketemukan di desa Prambanan berangka th. 782 M ditulis dalam huruf Pranagari serta bhs Sansekerta berisi bercerita pembuatan arca Manjusri oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggrama dan anjaya.

Prasasti Canggal, prasasti ini di dapatkan di halaman Candi Guning Wukir di lokasi desa Canggal memiliki angka th. 732 Masehi. ditulis dengan huruf pallawa serta berbahasa Sansekerta. Prasati ini diisi mengenai narasi pendirian Lingga (atau simbol Syiwa) di lokasi desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya diluar itu prasasti ini bercerita kalau ada seseorang raja yang memimpin pulau jawa sebelumnya dianya yang bernama Sanna yang lalu digantikan oleh Sanjaya. 

Prasasti Mantyasih diketemukan di Mantyasih Kedu, Jateng, berangka th. 907 M yang memakai bhs Jawa Kuno. Isi dari prasasti itu yaitu daftar silsilah raja-raja Mataram yang mendahului Bality yakni Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watuhumalang, serta Rakai Watukura Dyah Balitung. Karenanya prasasti Mantyasih/Kedu ini dimaksud dengan prasasti Belitung.

Author Name

Image 1 Title

Image 1 Title

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.